Assalamu’alaikum Wr. Wb
Tanpa mengurangi rasa hormat, kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu/Saudara/I untuk menghadiri acara pernikahan kami
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. “
( Q.S. Ar-Rum : 21 )




Gedung Serbaguna Choirul Huda
Kp. Girang Deukeut Rt 003 Ew 009 Banjaran Kab Bandung
Gedung Serbaguna Choirul Huda
Kp. Girang Deukeut Rt 003 Ew 009 Banjaran Kab Bandung




Cerita kami bermula sejak masa Sekolah Dasar. Kami berada di sekolah yang sama, namun tidak satu kelas. Saat itu, kami hanya sekadar tahu—tanpa saling mengenal, apalagi berbicara.
Waktu berjalan, hingga akhirnya di jenjang Sekolah Menengah Pertama, takdir mempertemukan kami dalam satu kelas yang sama. Dari situlah kami mulai saling mengenal. Di kelas 7 dan 8, hubungan kami hanyalah canda dan tawa sebagai teman. Tidak ada perasaan khusus, bahkan tak pernah terlintas untuk menjalin hubungan lebih dari sekadar sahabat.
Memasuki kelas 9, kedekatan kami berubah. Kami sering berbagi cerita, saling curhat tentang pasangan masing-masing. Dari kebiasaan bercerita itulah, tumbuh rasa nyaman yang perlahan tak kami sadari.
Salah satu momen sederhana menjadi titik awal perubahan. Saat itu, kami hanya berniat menemani teman yang sedang berpacaran—saya memboncengnya tanpa maksud apa pun. Namun siapa sangka, dari kebersamaan sederhana itu, rasa nyaman berubah menjadi rasa yang lebih dalam. Saat itu, dialah yang lebih dulu merasakan.
Komunikasi kami pun semakin intens, lebih personal, tak lagi membahas masa lalu masing-masing. Hingga akhirnya, perasaan itu tumbuh di hati saya juga. Dengan penuh keberanian, pada *13 Januari 2016*, saya mengungkapkan perasaan. Dan dengan satu jawaban yang mengubah segalanya, kisah kami pun resmi dimulai.
Saat SMA, kami harus menjalani hubungan jarak dekat tapi beda sekolah. Meski begitu, hampir setiap hari saya menjemputnya. Hubungan kami tentu tidak selalu mulus. Banyak badai, banyak ujian yang datang, bahkan berlanjut hingga masa kuliah, lulus, dan memasuki dunia kerja.
Namun takdir selalu menemukan jalannya. Kami tetap dipertemukan, dipertahankan, dan dikuatkan. Hingga akhirnya, pada *Juni 2025*, saya datang dengan niat yang lebih serius, melamarnya di rumah.
Dan kini, dengan penuh rasa syukur dan cinta, kami siap melangkah ke babak baru kehidupan.
*24 Januari 2026* menjadi hari di mana janji itu kami ikat dalam sebuah pernikahan.
Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami, apabila Bapak/ Ibu/ Saudara/ i berkenan hadir, untuk memberikan do’a restu kepada kedua mempelai.
Doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i di pernikahan kami menjadi hadiah terindah. Namun jika memberi merupakan tanda kasih, dengan senang hati kami menerimanya dan tentu semakin melengkapi kebahagiaan kami.

