Di sanalah aku bertemu dengannya.
Jujur saja, saat pertama kali melihatnya, tidak ada kembang api yang meledak atau debaran jantung yang hebat. Pertemuan itu murni karena keadaan. Namun, percakapan ringan di perjalanan perlahan berubah menjadi komunikasi yang intens. Kami tidak melewati fase "tembakan" romantis atau kata-kata "mau jadi pacarku?". Kami melewati itu semua dengan sesuatu yang jauh lebih kuat: Komitmen.
Kami sepakat untuk berjalan ke arah yang sama, tanpa perlu label yang berlebihan, karena tindakan kami sudah cukup menjelaskan segalanya.