Tanpa mengurangi rasa hormat, kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu/Saudara/I untuk menghadiri acara pernikahan kami
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.”
( Matius 19 : 6 )




Gereja Santo Mikael Pangkalan Adisutjipto, Pangkalan TNI AU
Jl. Lettu TPT Sapardal Karang Jambe, Kec. Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55198
Griya Soerjo
Jl. Janti Baru gg. Veteran VI No.3 Janti RT 012/RW 006, Gowok, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281



Ini bukan kisah cinta yang biasa. Ini adalah kisah yang luar biasa tentang dua orang yang mencari pasangan hidup — dan menemukannya.
Mungkin, jika kami hidup di dunia yang tidak terlalu terhubung secara digital, kami tidak akan pernah saling menemukan.
Mungkin, jika kami memilih untuk mengikuti arus, kami tidak akan pernah saling menemukan.
Mungkin, jika kami tidak percaya pada yang lebih baik dan pada “seseorang yang tepat”, kami tidak akan pernah saling menemukan. Kami mungkin masih menjalani kehidupan kami masing-masing.
Namun takdir berkata lain — hidup kami dipertemukan di dunia yang bising, menakjubkan, dan sangat digital. Kami saling cocok. Sapaan pertama “Hai” yang kami tukar bertahun-tahun lalu berkembang menjadi satu hari yang tak terlupakan ketika kami pertama kali bertemu, berbincang tanpa henti selama 10 jam.
Pertemuan-pertemuan itu berkembang menjadi banyak hal pertama lainnya yang kami jalani bersama dengan bahagia dan penuh kesetiaan. Kami sepakat untuk berusaha menjadikan dua kehidupan yang dulu terpisah menjadi satu lingkaran kehidupan yang utuh — milik kami berdua.
This is not a usual story of love. This is an unusual story of two people who sought for our life partners and found them.
Perhaps, if we lived in a less digitally connected world, we would not have found each other.
Perhaps, if we had chosen to go with the flow, we would not have found each other.
Perhaps, if we did not believe for the better and the one, we would not have found each other. We would still live our lives separately.
As universe has determined, our lives crossed path in a noisy and remarkable yet highly digitised world. We matched each other. That first “Hi” we exchanged many moons ago evolved into one unforgettable day when we first met, when we had a non-stop 10-hour conversation. These encounters developed into many other firsts that we both did happily and faithfully. We agreed to put in the effort for our previously two separate lives to be a one full circle of life belonged to us.
Remember the first time that your shadow crossed my door, sun from the shoreline made the dust dance ‘cross my floor. Easy days of healing the scars from the battles that we won now I read the headlines says, “There’s harder roads to come”
The sea gets hotter and the drums beat louder and world seems colder Singing that same ol’ tune and the times get harder World’s weight upon us, but it don’t mean nothin’ ‘Cause we’re leavin’ soon…
Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami, apabila Bapak/ Ibu/ Saudara/ i berkenan hadir, untuk memberikan do’a restu kepada kedua mempelai.
Doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i di pernikahan kami menjadi hadiah terindah. Namun jika memberi merupakan tanda kasih, dengan senang hati kami menerimanya dan tentu semakin melengkapi kebahagiaan kami.
