mempelai





Di awal November yang berembun, seorang teman menautkan dua nama seperti menyalakan korek di malam yang gelap. Kami bertukar senyum canggung, lalu nomor telepon yang terasa seperti puisi pertama yang belum selesai kutulis. Sejak itu, setiap notifikasi berbunyi bagai rindu yang baru lahir.
Di Februari yang panjang kami memutuskan untuk berpasangan. Meski tetap bertahan dengan LDR yang terasa seperti menahan napas berbulan-bulan. Jarak ribuan kilometer, zona waktu yang suka mengkhianati, dan sinyal yang sering putus di tengah percakapan yang mendebarkan. Ada hari-hari ketika telepon tak berbunyi, rindu menumpuk jadi gunung, dan cemburu datang tanpa diundang.
Sudah dua tahun kami berlayar di lautan yang sama; kadang ombaknya lembut seperti ciuman, kadang badainya ganas hingga kami saling melempar kata tajam. Kami tenggelam, lalu mengapung lagi, belajar bernapas di antara air mata dan tawa. Di setiap kali hampir karam, tangan kami tetap mencari dan menemukan satu sama lain.
Akhir Desember kembali, membawa hujan dan rahmat. Pada kilauan senja yang samar, dia berjanji di bawah genangan cahaya, menawarkan cincin kecil dari tabungan rindu kami. “Maukah kau jadi pelabuhan terakhirku?” pada akhirnya kami memutuskan menikah, dua jiwa yang pernah tersesat, akhirnya memilih pulang bersama selamanya.




















